Prince for Dama
1. Gue, Dio dan Chrisie
Nama gue
Damaris Danetta , tapi orang-orang memanggil gue Dama . Umur gue sekarang 15
tahun , diumur gue yang sekarang ini . gue berharap masih bisa melihat dunia ,
karena gue mengidap penyakit kanker otak . gue mengidap penyakit ini saat umur
gue baru 13 tahun , gue bertahan melalui obat-obatan dan perawatan yang amat
baik dari nyokap gue . dia merawat gue dengan penuh kasih sayang , sehingga gue
masih bisa bertahan . rambut gue yang dulu panjang dan indah , sekarang mulai
rontok . dan tinggal beberapa helai saja , jujur gue sangat malu jika ingin ke
sekolah . karena keadaan yang seperti ini , setiap hari gue mau gak mau harus
memakai topi untuk menutupi rambut gue yang tinggal sedikit ini . Nyokap
meminta gue untuk memakai wig , namun gue selalu menolaknya
“ coba kamu
memakai wig “ kata nyokap lembut
“ gak ma ,
aku gak mau “
Di sekolah
gue hanya punya 1 temen, anak sekelas gue yang sangat peduli pada gue. Dia
adalah Chrisie , Lengkapnya Chrisienna Jennie . Dia selalu menemani gue saat istirahat
dan mengajak gue untuk pergi ke kantin . Namun gue selalu menolaknya , dia juga
pernah mengenalkan gue dengan teman cowoknya . Namanya Gladio , dia termasuk
cowok popular di sekolah . banyak siswa perempuan yang suka padanya
“ Dama , ini
teman gue namanya Gladio . panggil aja Dio “ Chrisie mulai memperkenalkan
temannya itu , Dio menyambutnya dengan senyuman . entah mengapa aku merasa
senyuman Dio sangat tulus
“ hei ..
Nama gue Dio , lo Dama ya ? “
“ iya gue
Dama “
gue dan Dio
saling berjabat tangan , gue bisa merasakan ketulusan hatinya lewat jabatan
tangan itu . dan pada waktu itu gue mulai menyukai Dio , namun gue tau pasti
Dio gak suka sama cewek kayak gue . Yang penyakitan ini , gue sangat ingin
bercerita kepada Chrisie soal Dio . Namun gue berusaha untuk tetap diam soal
Dio , setelah 2 minggu mengenal Dio . gue bisa merasakan bahwa Dio adalah cowok
yang baik dan murah senyum , ia selalu menyapa gue setiap pagi . dan entah kenapa
gue sempat berpikir jika Dio suka pada gue , siang itu gue bermaksud untuk
menceritakan perasaan gue tentang Dio kepada Chrisie . gue berusaha mencari
Chrisie di semua sudut sekolah , namun gue gak menemukannya . gue berpikir
untuk mencarinya di perpustakaan , saat gue
sampai di depan pintu perpustakaan . gue melihat Chrisie sedang bergandengan
tangan dengan Dio , saat itu perasaan gue mulai tidak karuan gue ingin menangis
tapi gue harus menahannya , dugaan gue selama ini salah . ternyata Dio dan
Chrisie sudah jadian , gue mencoba berjalan ke kelas . Namun langkah kaki gue
terasa amat berat , saat gue melewati koridor kelas 12-1 IPA . gue melihat
seorang cowok yang cukup cakep , tinggi dan altetis . dia lagi baca-baca novel
, gue terus memperhatiin cowok itu sambil nahan nangis . tiba-tiba cowok itu
melihat ke arah gue , dia menatap gue dengan penuh keanehan . gue berusaha
mengusap pipi gue yang basah karena air mata , dia menghampiri gue sambil
megang novel yang tadi dia baca
“ lo kenapa
pakai topi ? “
Gue gak tau
jawaban apa yang harus gue lontarkan , namun gue berusaha untuk menjawab dengan
jujur
“ kanker
otak “ Cuma itu yang bisa gue jawab , karena gue males untuk membahas penyakit
gue ini . cowok itu melotot sangking terkejutnya dengerin jawaban gue
“ lo .. juga
.. udah gue gak mau bahas lagi , maaf kalo gue lancang nanya yang aneh kayak
tadi “
Kata-kata
cowok tadi membuat gue penasaran , sebenarnya ada apa ? kenapa dia bales “ lo
.. juga .. “ apa mungkin dia juga kena kanker otak ? tapi gak mungkin banget ,
rambutnya masih utuh . dan fisik juga masih sehat
“ Dama ! “
panggil orang dari arah belakang , gue menengok . dan setelah gue lihat , itu
Chrisie dan Dio .
gue mencoba
untuk kuat dan mencoba untuk gak keliatan sedih
“ lo tadi
kemana aja ? gue tadi nyariin elo ! “
“ maaf ,
tadi gue abis dari ruang UKS “ jawaban bohong ini sengaja gue keluarin ,
daripada gue harus menjawab “ gue abis dari perpus “ dan mereka nanti pasti
akan menjawab “ kenapa gak nyari kita ? kita juga di perpus tadi “
“ oh begitu
.. kirain apa , oh iya gue mau kasih tau lo sesuatu Dama “
Perkataan
Chrisie membuat gue penasaran dan membuat gue amat sakit , di dalam pikiran gue
saat itu mungkin Chrisie akan berkata “ gue udah jadian sama Dio “ atau
semacamnya
“ gue sama
Dio udah jadian “
Sontak
perkataan Chrisie membuat gue kaget dan batuk-batuk , saat itu air mata gue
mulai menetes . dugaan gue bener , gue mencoba beralasan untuk ke toilet . gue
pun segera berlari menuju ke toilet , tangisan gue meledak seketika . gue
melepas topi yang lagi gue pakai , gue menangis dan menangis . gue gak tau apa
yang harus gue lakuin sekarang , gue gak bisa menyalahkan Chrisie . karena dia
teman yang baik banget , Dio juga . dia beda dari cowok yang lain yang pernah
gue kenal , gue sadar amat sangat Dio memang gak akan pernah suka sama cewek
kayak gue . dari luar kedengeran suara Chrisie
“ Dama .. lo
kenapa ? lo nangis ? lo marah sama gue atau apa ? “
Namun gue
yang masih ada di toilet gak menjawab , gue gak bisa menjawab saat itu . dan tiba-tiba
gue denger suara Chrisie nangis , mendengar tangisan Chrisie gue mencoba untuk
membuka pintu toilet . lalu Chrisie memeluk gue sambil terus menangis , gue gak
tau kenapa Chrisie nangis . dan gue amat sangat bingung , gue yang patah hati
kenapa Chrisie yang nangis ?
“ Dama
maafin gue , gue tau lo suka sama Dio . tapi , jujur gue juga suka banget sama
Dio . begitu juga Dio , dan gue gak bermaksud bikin lo sakit hati . lo temen
terbaik gue Dama , please lo jangan
kayak gini “
Mendengar
kata-kata Chrisie yang begitu menyentuh hati gue , gue mencoba untuk
menjawabnya walau itu susah banget
“ iya gue
gak apa-apa , gue gak marah sama lo Chris . lo teman gue yang paling baik dan
perhatian sama gue , mana mungkin gue marah sama lo . lo sama Dio memang cocok
, lo cantik dan Dio Ganteng “
Chrisie
masih memeluk gue erat , lalu dia melepaskan pelukannya . Chrisie menghapus air
mata yang jatuh di pipi gue , Chrisie memang teman yang paling baik yang pernah
gue punya . gue sadar gak seharusnya gue bersikap kayak tadi , tapi hati gue
juga sangat sakit . gue gak tau harus berbuat apa lagi , gue Cuma ingin punya
pacar yang bisa menerima diri gue apa adanya
“ tapi Dama
, gue bisa ngerasain kalau gue diposisi lo . gue benar-benar … maafin gue Dama
“
Sekali lagi
, Chrisie memeluk gue . gue mencoba untuk membuat Chrisie berhenti menangis
“ I’m okay Chrisie , don’t worry
about me “
Dan Chrisie
melepaskan pelukannya , gue mencoba untuk menghapus air mata Chrisie . dia
mulai senyum , ya dia malaikat penghibur gue di sekolah . lalu gue dan Chrisie
keluar dari kamar mandi , gue liat Dio dari kejauhan . Dio melambaikan
tangannya ke arah kita , dan Dio menghampiri kita berdua
“ kalian
kemana saja ? gue tadi nyariin lo berdua “
“ dari
toilet , urusan cewek dan lo gak perlu tau “
Gue berusaha
menjawab dengan santai , gue mau melupakan apa yang udah terjadi tadi . gue mau
melupakan semuanya , dan mulai lagi dengan senyuman khas gue .
